Kamis, 18 Oktober 2018

Bos Twitter Sebut Pemilih Brexit Jadi Korban Dari Gelembung Filter

Bos Twitter Sebut Pemilih Brexit Jadi Korban Gelembung Filter


Sibray - Twitter mengklaim warga Inggris yang memberikan suara untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit) telah menjadi korban 'gelembung filter'. Mereka seharusnya menawarkan perangkat kepada pengguna yang mengikuti akun Vote Leave. Sehingga mereka tetap bisa melihat cuitan dari kampanye tetap.

Dilansir dari The Telegraph, pendiri Twitter Jack Dorsey mengungkapkan dirinya merasa salah karena memelihara gelembung filter.

Gelembung filter atau filter bubble merupakan istilah yang menggambarkan bagaimana seseorang menggunakan media sosial mengembangkan perspektif satu sisi atau politik. Hal ini terjadi karena pengguna hanya berinteraksi dengan akun yang memiliki latar belakang atau sentimen yang serupa.

Dorsey menggunakan kasus Brexit sebagai contoh di mana Twitter berkontribusi pada kasus tersebut.

"Selama Brexit, jika saya harus mengikuti 'Vote Leave', saya mungkin akan melihat sebagian besar dari Vote Leave. Tetapi mungkin ada beberapa tweet yang berlawanan yang dibaca," ujarnya Senin, (15/10).

"Karena kebanyakan orang mengikuti akun Vote Leave dan Vote Leave people, kami tidak memberi mereka alat untuk memecah gelembung filter," tambahnya.

Dorsey meyakinkan bahwa perusahaan tak melakukan 'shadow banning' dan bahwa kurangnya visibilitas adalah kesalahan komputer. Dia mengakui bahwa bias internal ada di antara jajarannya sebagai tenaga kerjanya, seperti kebanyakan startup di Silicon Valley.

Dia kemudian mengakui bahwa beberapa karyawan "merasa dibungkam" oleh suara dominan liberal di Twitter dalam sebuah wawancara dengan New York Times.

Departemen Kehakiman AS sedang mempertimbangkan apakah akan menginvestigasi Twitter, Facebook dan perusahaan media sosial lainnya karena melumpuhkan kebebasan berbicara setelah Donald Trump menuduh mereka bias.